Pada beberapa hari terakhir, banyak tersiar berita bahwa krisis pangan sedang melanda beberapa kawasan di dunia. Yang membuat heran, Indonesia bukan hanya terimbas krisis pangan, juga krisis energi, krisis ekonomi, dan masih banyak stock krisis yang belum terjadi.
Ketika banyak tenaga kerja yang sedang membutuhkan pekerjaan, beberapa empasan badai datang dari dunia usaha bahwa mereka akan hengkang ke negara lain di kawasan Asia Pasific, jika pemerintah RI tidak becus mengurus pasokan energi (baca listrik).
Ketika banyak tanaman pangan gagal panen karena serangan hama, banyak petani menjerit karena pupuk langka. Jika sudah demikian, tudingan terarah pada user (baca lagi : petani). Pupuk langka karena pemakaian para petani dalam aplikasi pemupukan melebihi aturan dari pemerintah tentang pupuk berimbang, sehingga pasokan yang sedianya bisa untuk kawasan tertentu secara merata, akhirnya hanya akan terkumpul atau dipakai oleh segelintir petani saja.
Ketika sebagian ibu-ibu rumah tangga secara rela mengganti minyak tanah ke gas (lha, ini suatu planning bisnis yang yahud dari wapres kita), tiba-tiba harga gas naik lagi (walaupun untuk ukuran 3 kg belum ada kenaikan, tapi yakinlah sebentar lagi pasti akan mengekor juga).
Ketika anak-anak kita mulai menapaki bangku sekolah lagi, ketika itulah aku tersadar, apa masih perlu kupertahankan loyalitas pada bangsaku ? Karena bangsa menurutku adalah sekumpulan orang-orang yang berada pada suatu negara. Untuk negaraku, loyalitasku tak perlu dipertanyakan. Tapi demi bangsaku yang sekarang ? Nanti dulu........
Read More......
Mutiara Hari Ini
AGRONOMIC TRICKS
Bagaimana Agar Efisien Dalam Pemakaian Benih Padi ?
1. Siapkan Lahan semai kira-kira seperduapuluh dari luas areal tanam. Contoh : KAlau lahannya seluas 1000 m2, maka kebutuhan semai benih adalah cukup 50m2.
2. Sebarkan pupuk dasar SP-36 atau pupuk merk lain yang berkomponen inti phospat. Berfungsi untuk memperkuat dan merangsang pertumbuhan akar.
3. Kemudian sebarkan abu dapur/ pasir tipis-tipis di permukaan lahan semai. Dimaksudkan agar tanah tidak bantat, sehingga benih mudah untuk dicabut ketika masih berumur muda.
4. Kemudian sebarkan benih padi dengan kerapatan yang agak lebar ( jarang).
5. Biasanya umur 15-21 hari (bandingkan dengan kebiasaan petani yang cabut benih umur 25-35 hari) setelah sebar benih sudah siap cabut. Jangan terlalu tua,karena akar akan terlanjur menyebar.
6. Tanam satu per satu. Tidak perlu 3 - 5 tanaman perlubang. Sehingga kebutuhan benih lebih hemat.
Selamat mencoba.....
1. Siapkan Lahan semai kira-kira seperduapuluh dari luas areal tanam. Contoh : KAlau lahannya seluas 1000 m2, maka kebutuhan semai benih adalah cukup 50m2.
2. Sebarkan pupuk dasar SP-36 atau pupuk merk lain yang berkomponen inti phospat. Berfungsi untuk memperkuat dan merangsang pertumbuhan akar.
3. Kemudian sebarkan abu dapur/ pasir tipis-tipis di permukaan lahan semai. Dimaksudkan agar tanah tidak bantat, sehingga benih mudah untuk dicabut ketika masih berumur muda.
4. Kemudian sebarkan benih padi dengan kerapatan yang agak lebar ( jarang).
5. Biasanya umur 15-21 hari (bandingkan dengan kebiasaan petani yang cabut benih umur 25-35 hari) setelah sebar benih sudah siap cabut. Jangan terlalu tua,karena akar akan terlanjur menyebar.
6. Tanam satu per satu. Tidak perlu 3 - 5 tanaman perlubang. Sehingga kebutuhan benih lebih hemat.
Selamat mencoba.....
Rabu, 16 Juli 2008
Selasa, 15 Juli 2008
HIDUP ITU TIDAK PERNAH MERUGI, JADI
Satu hal, sering kali orang (termasuk saya) mengatakan.... 'Wah...kemarin saya untung...
tapi hari ini rugi'....
Kemarin saya beruntung.... Tapi hari ini sial' dan orang tersebut (termasuk saya), merasa sedih...kecewa... dengan kerugian atau kesialan tersebut!
Tapi sebetulnya kalau kita cermati, dalam hidup sebetulnya kita tidak pernah merugi ....Allah s.w.t tidak pernah berkehendak kita merugi ataupun sial..... Allah senantiasa selalu memberi kita keuntungan atas segala hal yang kita usahakan. Hanya keuntungan tersebut bisa bersifat tangible (kasat mata), bisa juga bersifat in-tangible (tidak kasat mata). Dalam hal-hal yang kita usahakan, kita bisa mendapatkan dua-duanya.... tapi bisa juga Cuma salah satu saja! Tapi yang jelas :
tidak mungkin dua-duanya luput!
Contohnya :
Seorang pengrajin yang bekerja keras, dengan sepenuh hati, sepenuh kecintaan membuat meja pesanan seseorang, ternyata setelah dihitung-hitung ongkos produksi vs. Harga jual; dia mengalami kerugian.
Secara finansial (tangible) memang benar merugi, tapi dia pasti mendapatkan keuntungan yang intangible. Karena meja yang dibuatnya dengan tekun, sepenuh hati, sepenuh kecintaan, telah menimbulkan kekaguman bagi sang pembeli, telah menimbulkan respek dari sang pembeli terhadap pengrajin tersebut, dan besar kemungkinan si pembeli akan merekomendasikan orang-orang yang dikenalnya untuk juga memesan barang-barang kepada si pengrajin tersebut! Jadi, untuk usahanya besok, justru bisa mendatangkan keuntungan yang bersifat tangible maupun intangible, asal si pengrajin tersebut tetap bekerja dengan kualitas hati dan pikiran yang sama baiknya. Apalagi bila menjadi lebih baik lagi!
Atau contoh lainnya :
Seorang Istri yang telah berusaha sebaik-baiknya, dengan sepenuh hati untuk menjadi istri yang baik bagi suami-nya, namun ternyata mendapatkan perlakuan yang tidak layak bagi suaminya. Secara hitungan matematis, sepertinya merugi! Tapi kalau sang istri tersebut menerimanya dengan segenap kelapangan, maka dia akan menerima keuntungan yang luar biasa dari segala upayanya tersebut : Dia akan menjadi seorang istri yang lebih sabar,lebih kuat, lebih bijak, daripada orang kebanyakan!
Jadi, sangat benar sekali firman Allah s.w.t yang mengatakan bahwa "Sungguh, bagi orang-orang yang beriman, tidak akan pernah merugi!!" Read More......
tapi hari ini rugi'....
Kemarin saya beruntung.... Tapi hari ini sial' dan orang tersebut (termasuk saya), merasa sedih...kecewa... dengan kerugian atau kesialan tersebut!
Tapi sebetulnya kalau kita cermati, dalam hidup sebetulnya kita tidak pernah merugi ....Allah s.w.t tidak pernah berkehendak kita merugi ataupun sial..... Allah senantiasa selalu memberi kita keuntungan atas segala hal yang kita usahakan. Hanya keuntungan tersebut bisa bersifat tangible (kasat mata), bisa juga bersifat in-tangible (tidak kasat mata). Dalam hal-hal yang kita usahakan, kita bisa mendapatkan dua-duanya.... tapi bisa juga Cuma salah satu saja! Tapi yang jelas :
tidak mungkin dua-duanya luput!
Contohnya :
Seorang pengrajin yang bekerja keras, dengan sepenuh hati, sepenuh kecintaan membuat meja pesanan seseorang, ternyata setelah dihitung-hitung ongkos produksi vs. Harga jual; dia mengalami kerugian.
Secara finansial (tangible) memang benar merugi, tapi dia pasti mendapatkan keuntungan yang intangible. Karena meja yang dibuatnya dengan tekun, sepenuh hati, sepenuh kecintaan, telah menimbulkan kekaguman bagi sang pembeli, telah menimbulkan respek dari sang pembeli terhadap pengrajin tersebut, dan besar kemungkinan si pembeli akan merekomendasikan orang-orang yang dikenalnya untuk juga memesan barang-barang kepada si pengrajin tersebut! Jadi, untuk usahanya besok, justru bisa mendatangkan keuntungan yang bersifat tangible maupun intangible, asal si pengrajin tersebut tetap bekerja dengan kualitas hati dan pikiran yang sama baiknya. Apalagi bila menjadi lebih baik lagi!
Atau contoh lainnya :
Seorang Istri yang telah berusaha sebaik-baiknya, dengan sepenuh hati untuk menjadi istri yang baik bagi suami-nya, namun ternyata mendapatkan perlakuan yang tidak layak bagi suaminya. Secara hitungan matematis, sepertinya merugi! Tapi kalau sang istri tersebut menerimanya dengan segenap kelapangan, maka dia akan menerima keuntungan yang luar biasa dari segala upayanya tersebut : Dia akan menjadi seorang istri yang lebih sabar,lebih kuat, lebih bijak, daripada orang kebanyakan!
Jadi, sangat benar sekali firman Allah s.w.t yang mengatakan bahwa "Sungguh, bagi orang-orang yang beriman, tidak akan pernah merugi!!" Read More......
Minggu, 13 Juli 2008
Kecil, Tetapi Termakna
Handpone berbunyi. Alunan tembang I'tirof by Snada memecah kesunyian sore. Wah, dari Big bos. Di seberang suara Big bos minta tolong untuk di jemput di Bandara. Maklum, saat itu mobilnya kebetulan saya bawa.
Sepanjang perjalanan dari bandara, ada suatu cerita menarik yang saya dengarekan dari my bos.
Setelah pengumuman dari attendant bahwa dalam beberapa menit lagi pesawat akan landing di Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta, para penumpang hari itu mempersiapkan diri untuk berkemas . Roda pesawat terasa menyentuh ujung landasan. Pendeknya jalur runway Adisutjipto membuat hati miris ketika pesawat tak jua kunjung berhenti. Mungkin sebagian penumpang teringat tragedi beberapa waktu lalu, ketika GA 200 nyelonong mencium luar ujung landasan. Tetapi, sore itu alhamdulillah pesawat landing tanpa ada gangguan.
Perlahan tapi pasti, terasa badan pesawat mulai membelok memasuki pelataran peron parkir di sebelah selatan ruang tunggu penumpang. Semua penumpang siap-siap turun. Saat itulah, ketika para penumpang berebut mengambil bagasi di kotak bagasi yang terdapat di atas tempat duduk, sesosok pria berpakaian sewarna antara celana dengan kemejanya, dan di tengah krah yang melingkar di leher terdapat kain putih membentuk kubus kecil, perlahan berdiri dan membuka kotak bagasi di atasnya. Saat para penumpang berebut untuk mengambil barangnya sendiri, si pria tadi membuka bagasi, dan mengambil sebuah tas, yang mungkin miliknya sendiri. Tetapi, bukan. Dengan halus dia berkata "Maaf, ini punya siapa ? mari, silahkan". Tidak berhenti sampai disitu. Dia beranjak ke tas berikutnya sambil berkata " Silahkan, silahkan".
"Mari, ini tas siapa, silahkan"
begitu seterusnya, dia memberikan tas yang dapat dia rengkuh untuk diberikan kepada masing-masing pemiliknya, yang menunggu sambil harap harap cemas (padahal, tidak mungkin khan, kalau para pemilik tas itu akan terikut pesawat terbang lagi ? Seperti di bus saja, kalau tidak segera turun di terminal, kemungkinan akan terikut bus berangkat lagi). Subhanallah....
Bahkan dia ternyata tidak menenteng sebuah bagasipun ketika keluar dari pesawat..!!!
Bagaikan merasa tetesan embun yang sejuk ketika mendengarkan cerita ini. Suatu nilai Islami yang patut untuk direnungkan dalam hati. Tetapi, sayang..., mengapa justru si pria dengan baju sewarna dan krah melingkar dileher dengan kain putih kecil sebesar kubus berukuran 3 x 3 cm yang memaknai nilai Islami itu semua? Subhanallah..... Read More......
Sepanjang perjalanan dari bandara, ada suatu cerita menarik yang saya dengarekan dari my bos.
Setelah pengumuman dari attendant bahwa dalam beberapa menit lagi pesawat akan landing di Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta, para penumpang hari itu mempersiapkan diri untuk berkemas . Roda pesawat terasa menyentuh ujung landasan. Pendeknya jalur runway Adisutjipto membuat hati miris ketika pesawat tak jua kunjung berhenti. Mungkin sebagian penumpang teringat tragedi beberapa waktu lalu, ketika GA 200 nyelonong mencium luar ujung landasan. Tetapi, sore itu alhamdulillah pesawat landing tanpa ada gangguan.
Perlahan tapi pasti, terasa badan pesawat mulai membelok memasuki pelataran peron parkir di sebelah selatan ruang tunggu penumpang. Semua penumpang siap-siap turun. Saat itulah, ketika para penumpang berebut mengambil bagasi di kotak bagasi yang terdapat di atas tempat duduk, sesosok pria berpakaian sewarna antara celana dengan kemejanya, dan di tengah krah yang melingkar di leher terdapat kain putih membentuk kubus kecil, perlahan berdiri dan membuka kotak bagasi di atasnya. Saat para penumpang berebut untuk mengambil barangnya sendiri, si pria tadi membuka bagasi, dan mengambil sebuah tas, yang mungkin miliknya sendiri. Tetapi, bukan. Dengan halus dia berkata "Maaf, ini punya siapa ? mari, silahkan". Tidak berhenti sampai disitu. Dia beranjak ke tas berikutnya sambil berkata " Silahkan, silahkan".
"Mari, ini tas siapa, silahkan"
begitu seterusnya, dia memberikan tas yang dapat dia rengkuh untuk diberikan kepada masing-masing pemiliknya, yang menunggu sambil harap harap cemas (padahal, tidak mungkin khan, kalau para pemilik tas itu akan terikut pesawat terbang lagi ? Seperti di bus saja, kalau tidak segera turun di terminal, kemungkinan akan terikut bus berangkat lagi). Subhanallah....
Bahkan dia ternyata tidak menenteng sebuah bagasipun ketika keluar dari pesawat..!!!
Bagaikan merasa tetesan embun yang sejuk ketika mendengarkan cerita ini. Suatu nilai Islami yang patut untuk direnungkan dalam hati. Tetapi, sayang..., mengapa justru si pria dengan baju sewarna dan krah melingkar dileher dengan kain putih kecil sebesar kubus berukuran 3 x 3 cm yang memaknai nilai Islami itu semua? Subhanallah..... Read More......
Langganan:
Postingan (Atom)
