AGRONOMIC TRICKS
Bagaimana Agar Efisien Dalam Pemakaian Benih Padi ?
1. Siapkan Lahan semai kira-kira seperduapuluh dari luas areal tanam. Contoh : KAlau lahannya seluas 1000 m2, maka kebutuhan semai benih adalah cukup 50m2.
2. Sebarkan pupuk dasar SP-36 atau pupuk merk lain yang berkomponen inti phospat. Berfungsi untuk memperkuat dan merangsang pertumbuhan akar.
3. Kemudian sebarkan abu dapur/ pasir tipis-tipis di permukaan lahan semai. Dimaksudkan agar tanah tidak bantat, sehingga benih mudah untuk dicabut ketika masih berumur muda.
4. Kemudian sebarkan benih padi dengan kerapatan yang agak lebar ( jarang).
5. Biasanya umur 15-21 hari (bandingkan dengan kebiasaan petani yang cabut benih umur 25-35 hari) setelah sebar benih sudah siap cabut. Jangan terlalu tua,karena akar akan terlanjur menyebar.
6. Tanam satu per satu. Tidak perlu 3 - 5 tanaman perlubang. Sehingga kebutuhan benih lebih hemat.
Selamat mencoba.....
Posting From Padi Emas
Untuk meningkatkan produksi padi nasional berbagai cara telah di tempuh oleh pemerintah maupun swasta. Beberapa pendekatan di rekomendasikan seperti pola tanam Legowo , SRI dan penggunaan varietas hibrida baru.
Berbeda dengan pola tanam legowo, SRI maupun dengan hibrida baru , pada tahun 2005 kami mengembangkan pendekatan lain yang berfokus pada varietas lama dan tidak perlu merubah pola tanam dan teknis pemeliharaan yang sudah biasa di kerjakan petani.
Metoda yang kami kembangkan adalah dengan merangsang bibit padi yang baru di tanam supaya menghasilkan jumlah anakan yang lebih banyak. Hal ini dapat dilakukan karena proses pembentukan anakan juga merupakan proses fisiologis yang dapat di pengaruhi dengan kombinasi nutrisi dan hormon tumbuh yang berperan dalam pembentukan anakan padi. Produk tersebut kami namakan Bintang Penambah Anakan Padi. Sama hal dengan tanaman lain seperti mangga, anggrek, anggur, apel proses fisiologisnya untuk bercabangn dan berbunga dapat di stimulus, demikian juga proses pembentukan anakan padi.
Proses perangsangan jumlah anakan ini akan produktif jika di lakukan pada saat umur 1 – 4 minggu setelah tanam. Jika padi sudah berumur 1.5 bulan setelah tanam tidak akan menjadi anakan produktif lagi karena anakan yang baru muncul tidak dapat berkembang normal akibat penutupan cahaya matahari oleh anakan yang lebih tua. Pertumbuhan anakan akan normal jika mendapat cahaya matahari cukup.
Manfaat dari Bintang Penambah Anakan padi sudah di akui petani di Kabupaten Bekasi, Karawang, Subang dan sebagian Indramayu. Sejak tahun 2006 sampai sekarang Bintang Penambah anakan sudah menjadi produk umum di pakai petani. Sehingga di kabupaten-kabupaten tersebut cukup mudah untuk memperoleh Bintang Penambah Anakan karena sudah biasa di jual oleh toko-toko pertanian setempat.
Peningkatan produksi yang dapat dicapai memang tidak spektakuler hanya bervariasi antara 10 -20 %. Tetapi karena petani tidak perlu mengganti jenis bibit, tidak perlu merubah pola pemupukan dan juga tidak perlu merubah cara pengendalian hama penyakit Bintang Penambah Anakan cukup di terima petani.
Penggunaan Bintang Penambah Anakan juga di pakai petani untuk mempercepat tumbuhnya anakan baru pada lahan-lahan yang terserang hama seperti Sundep. Hama Sundep (penggerek batang) sudah menyerang pada awal pertanaman. Sundep akan merusak anakan padi yang masih kecil, sedangkan anakan inilah yang menjadi sumber panen. Banyak petani mencampur Bintang Penambah anakan dengan Insektisida Sundep agar dalam sekali penyemprotan akan membasmi sundep dan juga merangsang tumbuhnya anakan baru menggantikan yang mati/rusak oleh sundep.
Selain di Jawa Barat ada juga rekan dari Sulawesi Selatan yang mencoba mengembangkan Bintang Penambah Anakan. Di laporkan bahwa salahsatu petani yang memilki toko dan lahan sawah mencoba Bintang pada musim tanam lalu. Hasil yang di dapat adalah dari sepetak sawahnya yang biasanya menghasilkan 11 karung setelah memakai Bintang produksinya menjadi 25 karung. Angka seperti ini memang cukup menggembirakan, tetapi kami hanya berani melaporkan berdasarkan data umum bahwa petani yang memakai Bintang Penambah Anakan akan memperoleh peningkatan produksi yang besarnya variatif.
Untuk informasi mengenai Binatang Penambah anakan dapat menghubungi
Emil Simbolon. Jl. Rayong No 37 D. Kebon Jeruk. Jakarta Barat. Ph. 0818 07344324.
Read More......
CO-Paste from KOMPAS
Jumat, 25 April 2008 | 18:52 WIB
KEDIRI, JUMAT-Puluhan hektar tanaman jagung di Kabupaten Kediri, Jawa Timur diserang penyakit bulai daun yang disebabkan oleh jamur sclerospora maydis. Akibatnya, puluhan ton jagung terancam gagal panen. Petani menderita kerugian yang sangat besar.
Menurut sejumlah petani jagung penyakit bulai daun ini sulit untuk diberantas sekalipun menggunakan pestisida. Bahkan setiap kali dilakukan pemupukan, penyakit akan semakin parah. Penyebarannya juga sangat cepat sulit dikendalikan.
Kalau sudah terkena bulai daun seperti ini, ruginya banyak. Biaya tanam dan perawatan hilang, kemudian kami harus menyediakan biaya lagi untuk tanam baru, ujar Suwarno (30) petani jagung di Desa Wates Kecamatan Pagu Kabupat en Kediri, Jumat (25/4).
Tanaman yang diserang penyakit bulai daun rata-rata tidak bisa dipertahankan karena tongkol jagung yang dihasilkan kualitasnya jelek, tidak berisi. Petani harus memangkas batang tanaman jagung yang terserang kemudian menanam kembal i dengan tanaman yang baru. Pemangkasan itu juga dimaksudkan untuk mencegah penyebaran penyakit.
Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Kediri Koesstyanti mengatakan serangan penyakit bulai daun ini terjadi pada bulan April. Daun tanaman jagu ng yang terkena jamur akan berubah warna dari hijau segar menjadi hijau agak keputih-putihan dan cepat layu.
Ada beberapa faktor yang mendorong percepatan perkembangan penyakit ini diantaranya suhu udara yang relatif tinggi disertai kelembapan tinggi. Jamur akan kian subur apabila pengairan di areal tanam juga terlalu banyak.
Faktor lain pendorong pertumbuhan jamur sclerospora maydis ini adalah kondisi tanah yang sangat minim kandungan bahan organik sehingga membunuh tumbuhnya jamur antagonis bulai daun.
Data Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan menyebutkan luas serangan yang sudah dideteksi mencapai sekitar 20 hektar. Akan tetapi melihat pola penyebarannya yang sangat cepat, diperkirakan luas areal tanaman jagung yang terkena serangan penyakit bulai daun i ni mencapai puluhan hektar.
Areal tanaman jagung yang diserang jamur sclerospora maydis tersebar di enam kecamatan yakni Kecamatan Gampengrejo, Kecamatan Pagu, Kecamatan Kandangan, Kecamatan Pare, Kecamatan Kayen Kidul dan Kecamatan Papar.
Sejauh ini tindakan yang dilakukan oleh Dinas Pertanian adalah melakukan pendampingan kepada petani mengenai teknik pemberantasan jamur. Diantaranya dengan menggunakan obat-obatan yang tepat takaran.
Sebab, kesalahan penanganan penyakit bulai daun bisa berakibat fatal. Selain penyakit tidak bisa disembuhkan, penyebarannya juga semakin luas. Oleh karena itu tindakan yang diambil harus tepat sasaran.
Read More......